Wakil Rektor UMJT: Modal Sosial Suporter Jadi Kekuatan Penting dalam Pengelolaan Klub Sepak Bola
BANTUL — Kembalinya Adidas sebagai apparel resmi PSIM Yogyakarta setelah dua dekade dinilai bukan sekadar pergantian perlengkapan tim. Kerja sama tersebut menjadi simbol kebangkitan Laskar Mataram sekaligus momentum untuk memperkuat tata kelola klub secara profesional.
Pandangan itu disampaikan Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT) Madiun, Fajar Junaedi, dalam talkshow “Mataram Legacy” yang digelar bersamaan dengan peluncuran jersey PSIM Yogyakarta musim 2026/2027 di Sisi Timur Stadion Sultan Agung, Bantul, Sabtu (29/8).
Kembalinya jenama tiga garis tersebut menandai reuni Adidas dengan PSIM, sekitar 20 tahun setelah gempa bumi 27 Mei 2006 yang turut memengaruhi perjalanan klub hingga harus mundur dari kompetisi kasta tertinggi. Talkshow dipandu jurnalis sekaligus mantan pemain PSIM, FX Harminanto, turut hadir legenda PSIM Siswadi Gancis dan kolektor jersey Akbar Kusumowibowo.
Harminanto menilai kehadiran kembali Adidas menjadi bagian dari penegasan identitas baru PSIM. Menurutnya, kerja sama tersebut memiliki makna berbeda dibandingkan dengan dua dekade lalu.
“Ini menjadi sebuah hal yang menarik sekaligus kan hari ini, PSIM mengenalkan jersey yang internasional ini. Setelah sekian lama, ini kan pasti ada bedanya dengan 20 tahun lalu,” katanya.
Pada 2006, ketika PSIM baru promosi setelah menjuarai Divisi I 2005, sejumlah pemain seperti Seto Nurdiyantoro, M. Irfan, Esaiah Pello Benson, dan Sunday Seah tercatat mengenakan jersey Adidas berteknologi Climalite. Namun, menurut Harminanto, kerja sama Adidas dengan PSIM saat ini menunjukkan adanya lompatan dalam aspek manajerial dan pengelolaan klub.
Akbar Kusumowibowo menambahkan, pengelolaan perlengkapan tim kini telah bergerak menuju ekosistem industri olahraga yang lebih modern. Jersey tidak lagi sekadar pakaian pertandingan, tetapi juga menjadi bagian dari identitas dan gaya hidup suporter.
“Sebenarnya jersey itu sendiri punya arti kebanggaan kita. Keseharian pun sekarang sering digunakan jersey. Apalagi olahraga, bisa jadi tren,” ujarnya.
Akbar membedakan pola kerja sama antara klub dan apparel pada masa lalu dengan kondisi saat ini. Jika sebelumnya klub cenderung hanya menggunakan merek tertentu sebagai perlengkapan, kini kerja sama berlangsung secara lebih profesional dan terintegrasi dengan sistem ritel.
Ia pun mengingatkan suporter untuk turut menjaga keberlanjutan ekosistem klub dengan membeli produk resmi atau original.
Sementara itu, Fajar Junaedi melihat profesionalisme PSIM saat ini tidak bisa dilepaskan dari kekuatan suporter yang selama bertahun-tahun menjaga klub tetap hidup, bahkan ketika berada dalam kondisi sulit.
Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang aktif meneliti sepak bola dan komunikasi itu menjelaskan, ikatan emosional suporter PSIM telah berkembang menjadi habitus sekaligus modal sosial yang sangat berharga. Mengacu pada pemikiran sosiolog Pierre Bourdieu, Fajar menyebut modal sosial tersebut telah teruji ketika PSIM berada dalam periode paling sulit.
Menurutnya, ketika klub mengalami keterpurukan, suporter tidak hanya memberikan dukungan di tribun, tetapi juga melahirkan berbagai bentuk inisiatif dan kreativitas. Mulai dari gerakan penggalangan koin, produksi statistik pertandingan, siaran langsung menggunakan telepon seluler, hingga penerbitan zine dan match programme.
“Ketika PSIM kita terpuruk, teman-teman Jogja dengan segala "kemiskinan" dan "kemelaratannya", itu mengadakan aktivasi dan literasi. Itu sesuatu yang luar biasa,” kata Fajar.
Ia menilai fenomena tersebut menunjukkan karakter suporter yang tidak berhenti pada kritik, tetapi turut mengambil bagian dalam menjaga keberlangsungan klub.
Bahkan, kata Fajar, inisiatif seperti penerbitan zine dan siaran langsung secara mandiri kala itu belum menjadi praktik umum di klub-klub yang berlaga di level tertinggi.
Suporter PSIM tetap bergerak meski klub berada dalam situasi sulit dan sempat mengalami keterpurukan hingga minus sembilan.
“Ini kan sesuatu yang luar biasa. Suatu pengorbanan yang biasanya adalah bagian dari proses negotiated tadi. Jadi dalam tanda kutip ya, dibahasani wong Jowo itu nyangkem tapi sembodo gitu. Tidak hanya mengkritik saja,” tegasnya.
Menurut Fajar, modal sosial tersebut seharusnya menjadi salah satu aset penting dalam pengelolaan PSIM ke depan. Manajemen tidak hanya perlu mengembangkan aspek bisnis dan profesionalisme klub, tetapi juga merawat hubungan dengan basis suporternya.
Selain modal sosial suporter, Fajar mendorong PSIM untuk menggali potensi sport tourism atau wisata olahraga yang bertumpu pada sejarah panjang klub.
Ia mengingatkan bahwa PSIM memiliki posisi penting dalam sejarah sepak bola Indonesia karena merupakan salah satu klub yang turut menjadi bagian dari sejarah pendirian PSSI. Dari Yogyakarta pula lahir tokoh-tokoh penting sepak bola nasional, seperti Ir. Soeratin dan Abdul Hamid.
Keduanya memiliki peran dalam perkembangan sepak bola nasional. Abdul Hamid bahkan dikenal memiliki keterkaitan penting dengan Muhammadiyah.
Menurut Fajar, sejarah panjang tersebut dapat dikembangkan menjadi bagian dari pengalaman wisata dan edukasi yang menghubungkan sepak bola, sejarah kota, komunitas, dan kebudayaan Yogyakarta.
Pada akhirnya, ia menilai ukuran keberhasilan PSIM tidak semata-mata ditentukan oleh trofi yang diraih, tetapi juga oleh seberapa kuat klub mampu mempertahankan keterikatan dengan masyarakat.
“PSIM seharusnya juara di hati masyarakat. Itu poin yang paling penting. Juara untuk mendapatkan hati masyarakat itu menjadi jauh lebih penting karena itu adalah modal sosial untuk menjadi juara di lapangan,” ujarnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow